Prestasinya sangat mengagumkan. Associate Professor Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang ini tercatat sebagai penemu radar satelit untuk pengamatan permukaan bumi. Teknologi temuannya berbasis microwave remote sensing dan mobile satellite communications.
Josaphat Tetuko Sri Sumantyo,[Kasmaji 89] begitulah nama lengkapnya, telah melahirkan sejumlah antena tipis mikrostrip untuk keperluan mobile satellite communications masa depan yang telah diuji dengan menggunakan Japan Engineering Test Satellite (ETS-VIII).
Pria yang akrab dipanggil Josh ini dikenal getol berkarya. Karya terbarunya adalah circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR) sensor yang bisa dipasang pada pesawat tanpa awak bernama Josaphat Experimental Aircraft JX-1 dan microsatellite untuk monitoring permukaan bumi di masa depan.
Rencananya produk ini akan diluncurkan lima tahun mendatang. Sensor CP-SAR ini mengatasi kelemahan-kelemahan sensor observasi bumi atau penginderaan jarak jauh pendahulunya. Selain itu, sensor ini mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan, serta tidak terganggu oleh pengaruh Faraday rotation di lapisan ionosfer dan perubahan posisi platform satellite.
Penelitian terbaru lainnya berupa teknologi untuk membuat antena dengan ukuran dua mikron untuk keperluan alat komunikasi dan medis masa depan, seperti radar yang sangat kecil, robot mikro, serta array antenna untuk pemindaian partikel darah dan pergerakan otot.
Bahkan, pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, ini sedang mengembangkan GPS SAR atau sistem radar imaging dengan menggunakan sinyal GPS untuk keperluan pemetaan permukaan bumi hingga pelacakan pesawat dan kapal siluman (stealth). Yang mencengangkan, karya-karyanya selama ini sudah terekam dalam bentuk paten di 118 negara, misalnya antena untuk pesawat, bullet train, roket dan smart car masa depan.
Penghargaan yang tinggi dan jaringan yang luas merupakan alasan peraih Ph.D dari Center for Environmental Remote Sensing, Graduate School of Science and Technology, Chiba University, Jepang (1999-2002) ini untuk berkiprah di luar negeri. Menurutnya, di negeri orang ia mendapat kesempatan dan kebebasan mengekspresikan karya ilmiah dan teknologi radar yang ia ciptakan selama 1997-1999 yang saat itu belum bisa diterima di Indonesia.”
Bagi saya pribadi, umur juga merupakan sumber daya tersendiri, di mana ada kesempatan mengontribusikan karya original ke seluruh dunia sedini mungkin,” ujar penyandang B.Eng (S-1) dan M.Eng (S-2) dalam bidang rekayasa komputer dan kelistrikan dari Universitas Kanazawa, Jepang (1995 dan 1997) ini.
Josh mengakui momentum go global ia dapatkan ketika secara resmi diangkat menjadi pegawai negeri Pemerintah Jepang dengan posisi Associate Professor (permanent) di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang pada 2005. Usianya kala itu 34 tahun.
Saat itu ia diberi kepercayaan mendirikan Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory untuk pengembangan sensor-sensor penginderaan jarak jauh bagi dunia, khususnya Jepang. Tak tanggung-tanggung, ia mendapatkan dukungan dana sekitar US$ 2 Juta dari pemerintah dan sejumlah perusahaan Jepang.
Uniknya, meskipun belasan tahun menetap di Negeri Sakura, Josh tetap bertahan menjadi warga negara Indonesia. Alasannya, ”Saya dan keluarga mempunyai hak untuk membesarkan nama Tanah Air di dunia international lewat karya-karya only one keluarga kami,” ujarnya.
Untuk itu, ia dan keluarga mengembangkan SDM di bidang hi-tech dengan mendidik langsung para mahasiswa program S-1 hingga S-3 yang berasal dari banyak negara, antara lain Prancis, Korea, Cina, Iran, Mongol, Kenya, Bangladesh, Yordan, Mesir dan Indonesia sendiri.
Bahkan, ia menjadi visiting professor, adjunct professor dan head division di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin dan Universitas Gadjah Mada. ”Perlu diketahui, saat mengajar di Indonesia saya menggunakan pendanaan dari uang pribadi,” katanya bangga.
Sumber: SWAsembada
|
|


Blog Alumni
00:30:17












