Source : Notes Tulus Wijanarko di Facebook
Beberapa sandek (pesan pendek/sms) sudah masuk telepon genggamku,sejak setelah subuh, Sabtu, 1 Agustus, pagi itu. Ada yang mengabarkan sedang siap-siap, ada yang memberi tahu batal tidak bisa datang karena ada anggota keluarga yang sakit. Juga ada yang sekadar menyapa: jam piro budhal?
Sambil mendoakan agar yang sedang sakit segera sembuh, dan menjawab beberapa uluk salam, aku bersyukur pagi itu cuaca cerah-menjanjikan. Sebuah isyarat yang baik, acara Kenclengan dan Silaturahmi Kasmaji 85 bakal berlangsung mulus dan lancar. Sebuah pemanasan bagi Reuni Perak Angkatan 1985 SMA 1 Sala yang akan digelar September nanti.
Beberapa sandek kembali masuk ketika kami akhirnya melaju di Tol menuju Kebun Raya, Bogor.
"Aku wis nang tol, dab. Sampeyan dimana."
"Kakehan Nyiapke Lawuh, aku durung mangkat-mangkat ki."
"Aku nglurug seka Yoja iki. Bar makan siang isih kumpul, kan"
"Aku wis ngetag pendopo cedak Kafe Dedaunan, Iyup pokokmen."
nama-nama melesat di jendela/ wajah-wajah dihantarkan angin/
kenangan mengetuk ingatan serupa dedaunan jatuh/ aku datang/
kita datang...
Sebuah puisi begitu saja terlintas di benak. Dan, kukira, demikianlah akhirnya hari ini bersama-sama kami lalui. Bertemu sahabat-sahabat lama, di hari yang demikian resik, mengenang masa yang telah lewat, dan kini mengembangkan silaturahmi yang lebih luas karena kami (nyaris semua) datang bersama keluarga. ini semua seperti menuliskan puisi yang tak pernah usai...
Dan, inilah kami yang hari itu datang: astri pujianto, agus pranawa, danang wahyu, e dewi sulistyowati, diana kusumastuti, yani purnamasari, agustinus strauss haryadi, yanuardi "ceng ho" soebono, budi djatmiko,totok t pranoto, nurindro, indria purnama hadi, nuryadi dewanto,r daru cahyo, agustina choncita (connie), sinung nugrho, agus "genter" suparto, dan natalia sinto.
Semua ber-20 orang. Dulu kami pernah sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu di sekolah yang sama. Dan, hari ini kami bertemu di sebuah tempat yang sudah lebih seabad tak lekang oleh waktu. Mungkin, kami ingin menyerap keabadian sang kebun raya untuk mengekalkan silaturahmi ini...
Dan semuanya berjalan alamiah. Saling mengingat dan bertanya: Sampeyan dulu kelas IPA/IPS berapa? "Wis nek ra kelingan anggep wae mbiyen cah iki SMA liyo," seseorang nyeletuk.
Lalu ada pembelaan diri. "Halah, padha ra kenale soale mbiyen sama-sama colutan."
Gelak tawa pecah....
Lalu obrolan bergulir soal perlunya para alumni membentuk wadah. Ada yang mengusulkan untuk mematangkan wadah itu, perlu diciptakan kegiatan-kegiatan yang gayeng. Rata-rata semua menyetujui. Angkringan dan klinik foto, celetuk seseorang dari sudut, yang sudah berjalan perlu dipertahankan untuk menjaga momentum gagasan itu.
"Ana satu lagi kegiatan yang gayeng, kapan-kapan kita trekking bareng. Di sekitar Sentul banyak kawasan yang nyaman untuk itu," usul Ki Sinung.
Ki Agus Pranawa berpendapat pertemuan rutin --misalnya dua bulanan-- pada hari yang telah ditetapkan, patut dicoba. "Kalau perlu kita tetapkan sebuah sekretariat. "
Demikian alamiah. Mengalir lancar. Seperti kegembiraan anak-anak kami yang tiba-tiba cepat akrab dan lalu main bola bersama di rerumputan yang lapang. Seperti kakak-kakak mereka para abg yang tersedot minatnya belajar fotografi pada ki genter.
Juga ketika kami menyantap makan siang yang sedap. Semua lawuh dan bekal dikembul dan dinikmati bersama-sama. Entah siapa tadi yang bawa mi goreng, peyek, nasi timbal (plus ubo rampe-nya), ayam goreng cepat saji, sambel terasi, dan seluruh hidangan ini, tak ada yang ingat--dan tak perlu diingat. Semua sudah tersaji, dan rizki ini layak kami syukuri bersama-sama.
Dari Kebun Raya ini, kami mengangsur keyakinan, bahwa acara silaturahmi yang lebih besar nanti di Sala, akan berlangsung lebih akrab, hangat, dan kian mengekalkan persaudaran kami.
Dari Kebun Raya, pesan ini telah kami haturkan...
Foto-foto selengkapnya bisa dilihat di sini
![]() |
| Silaturahmi Dan Kenclengan Kasmaji 85 Jabodetabek |
| Courtesy of : Tulus Wijanarko |
|
|


Blog Alumni
04:20:33













