Oleh: Umar Alhabsyi, MT, CISA, CRISC. (Kasmaji '93)
08-Januari-2011
Sumber: www.ivitc.com
Pada tulisan sebelumnya, sudah dijelaskan sekilas bagaimana pendekatan harmonisasi dapat digunakan untuk mengambil manfaat optimal dari kekuatan yang dimiliki oleh 2 (dua) kerangka kerja Sistem Manajemen Kinerja (SMK) kondang yaitu Balanced Scorecard dan Six-Sigma. Hasil harmonisasi tersebut menghasilkan sebuah framework “baru” yang sejatinya merupakan kombinasi komplementer yang dapat meningkatkan value dari keduanya.
Namun perlu diingat bahwa kedua framework-framework diatas adalah framework SMK bisnis yang bersifat “generik”. Sehingga untuk diterapkan pada sebuah area spesifik tertentu, diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai seluk-beluk area yang spesifik tersebut. Prasyarat ini merupakan prasyarat logis saja. Seperti bagaimana kita dapat mengukur kinerja kesehatan medis seseorang jika kita tidak mengetahui seluk beluk dunia medis, apa ukuran kesehatan medis seseorang, bagaimana cara mengukurnya, dst. Bagaimana kita dapat mengetahui kinerja keuangan sebuah perusahaan jika kita tidak mengetahui dengan baik tentang dunia keuangan, bagaimana ukuran dan cara mengukur kinerjanya. Jadi dari sini dapat kita simpulkan bahwa untuk dapat menentukan ukuran kinerja yang baik, maka mutlak dibutuhkan pengetahuan yang baik pula terkait bidang yang akan diukur tersebut. Setuju? Jika tidak setuju, maka mungkin Anda tidak perlu membaca kelanjutan dari tulisan ini karena premis ini merupakan premis awal yang digunakan dalam bangunan argumentasi dalam tulisan ini.
OK, saya lanjutkan..
|
|


Blog Alumni
Umar Alhabsyi
14:51:53
Pengembangan dan implementasi sebuah sistem aplikasi umumnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari organisasi/perusahaan. Walaupun tentu saja kita tidak menutup mata akan adanya sistem yang diimplementasikan tanpa justifikasi kebutuhan yang jelas, misalnya sekedar untuk tujuan penyerapan anggaran, “dropping” aplikasi yang tidak jelas manfaat dan tujuannya, dsj. Tulisan ini tidak akan membahas kelompok inisiatif pengembangan/implementasi aplikasi yang tidak jelas tersebut.
Terdapat banyak kerangka kerja (framework) yang dapat digunakan untuk keperluan Sistem Manajemen Kinerja (SMK), masing-masing dengan pendekatan yang juga beragam (lihat di 












